Untuk memberikan ilustrasi yang lebih jauh, perlu kami sampaikan apa yang pernah ditulis oleh pimpinan redaksi majalah Rose el-Yusuf yang biasanya tak pernah memperhatikan masalah-masalah kerohanian, dibawah judul "Penduduk Surga itu Bukan Orang Yang Bahagia". Yang dimaksud disini adalah penduduk negeri Swedia yang tingkat perekonomiannya benar-benar fantastis.
Di negeri ini seluruh penduduk tidak perlu khawatir akan mengalami kemiskinan, menjadi pengangguran dan kesengsaraan dihari tua, sebab negara telah menyediakan fasilitas yang sepuas-puasnya dalam segala keperluan hidup bagi setiap warganya.
Pendapatan setiap orang melimpah, sehingga kesenjangan tingkat ekonomi ditengah masyarakat benar-benar terhapuskan. Mereka mendapatkan jaminan kesehatan dan sosial yang tidak didapati di negara-negara lain. Setiap penduduk berhak meiliki mata pencaharian yang layak serta bermacam-macam kemudahan yang lain. Ada pula bantuan yang diperuntukkan untuk kaum ibu seperti biaya melahirkan anak, peralatan dirumah sakit dan bantuan yang diperlakukan untuk perawatan bayi.
Kepada mereka yang kehilangan mata pencahariaan ataupun mengalami kecelakaan ditempat kerja juga disediakan dana sosial. Dana-dana tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara manapun. Tunjangan terhadap anak dan para pemuda benar-benar menggiurkan. Anak-anak sampai usia enam belas tahun diberi bantuan uang pemeliharaan kesehatan dengan cuma-cuma, dan hingga usia empat belas tahun tersedia angkutan gratis. Aktifitas pendidikan disemua jenjang tidak ada pungutan, bahkan seluruh fasilitas anak disumplei oleh negara dengan cuma-cuma. Bagi yang cerdas dan tekun tersedia pinjaman yang cukup banyak, bagi pasangan muda-mudi yang hendak melangsungkan pernikahan diberikan pinjaman lunak sebanyak kebutuhan yang diperlukan untuk membentuk rumah tangga dan baru dibayar setelah jangka lima tahun.
Inilah gambaran singkat tentang kemakmuran hidup peduduk negara swedia, yang oleh penulis disebut sebagai penduduk surga. Namun demikian, mereka toh masih hidup susah, mengeluh, bahkan tidak bisa dibilang sedikit diantara mereka yang putus asa. Dan pada ujungnya akibat perasaan tidak tahan dengan kehidupan yang dirasakannya penuh kesulitan dan kepayahan itu, mereka mengambil jalan pintas bunuh diri. Inilah pilihan yang ditempuh oleh beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang dengan harapan mereka bisa lepas dari aneka kesulitan.
Selanjutnya penulis tersebut mengakhiri tulisannya dengan mengetengahkan kesimpulan yang didasarkan pada kenyataan bahwa penyebab kesusahan dan kegelisahan batin itu tidak ada lain kecuali : Keidakadaan Iman dan runtuhnya Moral, akhlak dan nilai-nilai kemanusiaan. Inilah fakta sekaligus bukti bahwa dengan melimpahnya harta benda bukanlah kunci dari kebahagiaan dan bukanlah unsur utama agar seseorang hidup bahagia.
Sekian Artikel tentang " Bukan Materi Yang Menjadi Ukuran", Semoga bermanfaat.
0 Response to "Bukan Materi Yang Menjadi Ukuran"
Posting Komentar