Tak dapat dipungkiri bahwa kekayaan yang melimpah ruah dapat menyebabkan seseorang itu mendapat kemuliaan dan kehormatan diri ketika di dunianya. Apalagi pergeseran nilai moral yang akhir-akhir ini terjadi, dimana seseorang lebih dihormati karena kekayaannya, daripada karena ilmunya. Akan tetapi orang kaya bisa lebih terhormat dan sangat disegani dikalangan masyarakatnya, oleh sebab ia menggunakan hartanya di jalan Allah dan membelanjakannya di jalan keridlaan Allah.
Dan keterprukan sebaliknya akan terjadi, bila seorang tak pandai-pandai menyiasati harta kekayaannya, Karena kekayaan juga dapat menyebabkan seseorang menjadi boros, sombong serta merasa ekslusif, dan serakah. Seorang yang boros membelanjakan hartanya hanya untuk kepuasan nafsunya. Apa pun itu, jika menyangkut kepuasan hatinya, ia akan kuras seluruh isi kantongnya. Tapi sayangnya, jika hal itu menyangkut kebaikan orang banyak dan bernilai amal, maka ia akan berpura-pura menjadi orang yang pailit. Intinya, selain menjadi boros, ia juga akan diserang penyakit pelit. Tidak hanya itu, dengan kekayaan yang dimiliki, seseorang bisa menjadi sombong dan merasa ekslusif. Orang-orang dari lapisan bawah tidak dapat diterima dalam lingkup pergaulannya. Ia merasa bahwa mereka bukanlah orang yang dapat diajak biacara, sebab level mereka beda jauh dibawahnya. Dan ia merasa bahwa dialah orang besar yang memenuhi semua kebutuhannya tanpa bantuan siapa pun.
Mereka itulah orang yang bisa dipermainkan oleh harta kekayaan. Karena dengan adanya perasaan seperti itu (terlalu cinta harta), sudah pasti ia akan menjadi serakah. Ia tidak akan merasa puas dengan apa yang yang sudah ia dapatkan. Sesudah menjadi orang kaya, ia ingin lebih kaya lagi, dan kalau bisa, tidak ada seorang pun yang dapat melebihi kekayaannya, begitulah seterusnya.
Itulah sifat-sifat orang kaya yang tidak sabar, orang kaya yang tidak mengharapkan keridhaan Allah dari kekayaan yang didapatkannya, dan itula tipe orang kaya yang tidak shalih. Dengan begitu, bukan berarti Islam mengajarkan kita bahwa menjadi orang miskin itu lebih baik daripada orang kaya yang tidak shalih. Tapi sebenarnya Islam mengajarkan pada kita untuk menjadi orang kaya yang shalih, dan menjadi orang miskin bukanlah suatu hal yang hina, apalagi kalau ternyata kemiskinan itu itu dapat menjadikannya seorang yang mulia. Yang lebih buruk lagi menjadi orang miskin dan tidak sholeh. Artinya, di dunia dan akhirat tidak dapat. "Sudah jatuh tertimpa tangga pula", ungkapan itulah yang tepat bagi orang yang tidak mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.
Islam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk mengejar harta kekayaan, Hanya saja, Islam tidak melarang, bahkan mengajarkan kita untuk menjadi orang kaya, agar bisa memberi kemanfaatan kepada orang miskin. Nabi Muhammad adalah seorang yang kaya raya, demikian juga para sahabat, selain kaya mereka juag berprestasi, sehingga dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Walaupun Mereka kaya, tapi hidup mereka sederhana. Intinya, mereka menjalankan kehidupan mereka yang proporsional.
Dengan demikian, bukanlah kebahagiaan dunia yang didapat, namun akhirat pun tetap menjadi tujuan hidupnya.
Semoga artikel saya bermanfaat..!
0 Response to "Jangan Menghinakan Diri Dengan Harta Kekayaan"
Posting Komentar