Antara Wahyu dan Akal

Wahyu adalah suatu bentuk dan corak kepercayaan didalam agama, sebab ia adalah firman Tuhan. Ia berfungsi sebagai penerang jalan yang dilalui akal dalam setiap penyelidikannya, karena setiap ahli pikir dimana pun dan kapan pun saja senantiasa membutuhkan suatu pangkal atau landasan berpijak  jalan pemikirannya. Maka suatu pemikiran (ilmu dan filsafat) akan hidup, tahan lama, dan benar, apabila dimuati dengan unsur yang benar mutlak, universal, abadi, hakiki dan eternal, yakni "Wahyu" (agama) yang serasi betul dengan fitrah manusia.

Wahyu tuhan merupakan suatu anthropomorship consession, mempunyai pengertian terlingkung dalam batas pengertian tersurat dan tersirat. Karenanya harus dapat difahamkan oleh setiap akal menurut kecerdasannya.

Hingga abad ke 14 H, karena pengaruh filsafat, perjalanan pikiran tidak stabil lagi, tidak datar dan tidak rata, semuanya sudah berlubang penuh dengkul dan dangkal, yang sulit untuk diperbaiki lagi. Tetapi wahyu tidak ada kusut yang tidak dapat diselesaikan. Orang-orang pernah berkata : " Agama harus dilenyapkan karena ilmu pengetahuan semakin lama semakin mampu mengartikan hidup dan membawa manusia kepada kebahagiaan".

"Yang terakhir ini dikatan Marxisme , tetapi pada waktu yang sama mereka berkata, " Namun sesungguhnya ilmu tetap tidak sanggup menjawab beberapa pertanyaan yang mendasar dan paling dalam terpendam dalam sanubari manusia, serta tidak kuasa menghindarkan makna sengsara atau menghapuskan sama sekali arti penderitaan batin. Dan lebih dari itu, ilmu tidak dapat memenuhi kerinduan, kehausan rohani manusia akan cinta mutalak yang abadi".

Pengetahuan manusia  melahirkan dan membentuk kebudayaan. Pengetahuan Tuhan melahirkan dan membentuk agama. Kebudayaan berfungsi membina kemakmuran dan kesejahteraan duniawi. Sedangkan agama berperan dan bertugas serta bertujuan membina kebahagiaan lahir batin, dunia dan akhirat.

Menurut kepercayaan agama, dunia adalah pangkal kehidupan manusia dan akhirat ujungnya. Antara kehidupan dunia dan akhirat terjalin hubungan kausal, tetapi juga integral. Dunia merupakan sebab dan khirat akibat. Di dalam urusan dunia ada unsur akhirat dan di dalam urusan akhirat terkandung urusan dunia.

Berbuat baik di dunia kebaikannya akan dirasakan di dunia dan pahalanya akan diterima di akhirat. Berbuat jahat di dunia tidak habis akibatnya di dunia saja, melainkan balasannya akan diterima di akhirat juga. Untuk itu kalau ingin mencapai kebajikan di akhirat, di dunia mestilah kita berbuat kebajikan. Dan siapa saja yang menghendaki kebahagiaan di dunia dan akhirat , akhiratnya haruslah lebih diutamakan, karena kehidupan akhirat menuntun kehidupan dunia seperti ujung mengendalikan pangkal.

berbahagialah dengan jkarunia dan rahmat Allah SWT itu lebih baik dari harta dan anak-anak, serta dari segala apa yang mereka kumpulkan.

Dengan demikian, kehidupan dunia (kebudayaan) hendaklah dituntun oleh agama. Kalau kita iman bahwa Allah mengatasi manusia dan alam semesta ini, maka Wahyu Allah mengatasi ilmu pengetahuan (akal) manusia.

Pengetahuan manusia nisbi , sedang pengetahuan Tuhan mutlak. Maka yang nisbi mau tidak mau tunduk kepada yang mutlak, karena yang mutlak menjadi tujuan. Wajarlah kalau manusia menyerahkan diri, tunduk dan patuh kepada Agama Allah dibawah tuntunan-Nya dalam usahanya mencari kebahagiaan hidup yang ilmunya sendiri tidak sanggup mendatangkannya.

Keseluruhan maksudnya dalam segala aspek, dan semua aktifitas hidupnya karena dalam agama Islam sudah lengkap, komplit, sempurna, berdasarkan sistem ilahi yang menuntun kejalan bahagia lahir batin, dunia kahirat, jasmani rohani, materiil dan spirituil.

Karena manusia masih belum sadar bahwa kebudayaan yang hanya digantungkan pada pengetahuan manusia (akal) semata-mata, taka akan mungkin mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan yang menjadi harapan hidupnya, maka kepada siapakah ia mau bergantung..?..

Dari mana kita mencari kebahagiaan..?.. Jawabannya cukup singkat : Dari agama Islam (Wahyu). Salim adalah akar kata Islam. Tujuan Islam, ya salim itulah. Kata ini mungkin tidak tepat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena tidak ada ekuivalennya. Isi pengertiannya ialah integrasi dari pengertian ; makmur, sejahtera, adil, damai, yang kita terjemahkan dengan "bahagia". 

Demikian artikel " Antara Wahyu dan Akal", semoga bermanfaat..!

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Antara Wahyu dan Akal"