Obsesi Manusia dalam Meraih Kebahagiaan

Obsesi merupakan sebuah keinginan yang amat sangat kuat, yang dipunyai setiap manusia hidup. Obsesi untuk meraih kesuksesan, obsesi memperoleh kebahagiaan hidup yang sempurna di dunia, kalau bisa juga di akhiratnya.

Sebuah obsesi menjadikan pelakunya akan berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya. Yang gelap mata, ia tak akan menghiraukan rambu-rambu tuntunan agama. Dan itu tidak dibenarkan dalam meraih obsesi. Rosulullah pun sebenarnya memacu umatnya agar mempunyai obsesi dan berusaha mencapainya semampu jiwa dan tenaga yang dipunyainya. 

    
Sebagaimana dorongan beliau saw kepada umatnya, agar bekerja untuk urusan dunia, seolah-olah akan hidup selamanya. Dan juga bekerja untuk urusan akhirat, seolah-olah hendak mati esok pagi.

Siapa sih yang tak ingin hidup enjoy, senang, mapan, aman, tentram, terhormat, sehat dan puas terpenuhi segala kebutuhannya? ..Barangkali sedertan ungkapan diata yang menjadi cita-cita hidup semua manusia sejak dulu sampai abad modern sekarang. Obsesi seperti ini sangat wajar bagi seorang manusia, yang juga seringkali disebut dengan keinginan "bahagia". Dengan demikian obsesi orang hidup di dunia, sebenarnya tak jauh amat dari kata" bahagia" tersebut.

Awas, jangan sampai kebelinger untuk menentukan pilihan langkah dalam mengisi kegiatan sehari-hari kita untuk mencapai obsesi hidup. Sebab, telah anyak pandangan hidup yang dianut oleh manusia di dunia ini untuk mengejar kebahagiaan yang mereka obsesikan, dan jalan hidup yang mereka yakini itulah yang menentukan langkah mereka dalam mengejar obsesi. 

Bertolak dari sisni, marilah kita mulai mengenal macam-macam pendapat tentang makna kebahagiaan menurut mereka agar kita tidak mudah terkecoh dan gampang mengikuti arus yang nampaknya sedang ngetrend dalam kehidupan.

Ada sebagaian orang yang berpendapat bahwa letak kebahagiaan itu adalah apabila seseorang dapat memperoleh apa-apa secara lebih atau melebihi kecukupan. Jadi bukan hanya secukupnya saja, apalagi kurang. "Lebih" yang dimaksud disibi adalah dalam segala hal, baik yang diminum, dimakan, disenangi, disandang dan lain sebagainya.

Adalagi yang berpendapat bahwa, kebahagaian itu dirasakan apabila seseorang telah terkabul maksudnya untuk bisa menghabiskan waktu hidupnya plesir kesana-kemari, baik didalam dan diluar negeri, rilek dengan acara-acara yang serba menggembirakan, berfoya-foya dengan aneka pesta, disertai dansa ria setengah gila, itulah kebahagiaan yang tiada taranya.

Berbeda dengan kedua pendapat diatas, maka ada juga yang berpendapat bahwa, seseorang baru akan bahagia, jika sudah mencapai kegemaran menuntut ilmu pengetahuan sampai puncak yang tertinggi. Dimanapaun ia menghadapi buku, terus membaca dengan rajin mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, mengadakan penelitian, mengikuti seminar, lokakarya, semiloka dan lain sebagainya, sehingga hampir seluruh usianya dihabiskan untuk kepentingan ilmiah.

Adalagi yang berpendapat bahwa, menyendiri ditempat yang sunyi, dihutan atau di pantai yang menyatu dengan alam, meninggalkan semua macam kesenangan duniawi, itu merupakan kebahagiaan tersendiri. Dan masih banyak lagi berpendapat mereka tentang arti bahagia. 

Pendek kata seribu orang yang diminta pendapatnya tentang arti bahagia, maka sejumlah itu pula pendapat mereka tentang arti bahagia, sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Memang, setiap manusia hidup ini pasti punya keinginan dan tujuan, kalau enggak ada keinginan dan tujuannya, ya samalah dengan kapal yang menyebrangi lautan tak tahu tujuan dan arah kemana harus pergi. Padahal hidup kita sangat dibatasi oleh ruang dan umur. Kapan dan dimana saja bisa direnggut oleh sang pencipta, apabila Dia mengehendaki . Lalu sudah siapkah kita dengan perbekalan untuk menghadapi al-Haliq dengan memepertanggungjawabkan semua amal perbuatan kita selama hidup didunia ini..?

Yang jelas kita semua ingin hidup bahagia, tetapi terkadang masih kabur juga dalam pikiran kita untuk mengerti arti sebenarnya yang dikatakan bahagia itu. Padahal bahagia itu ada dua macam, yaitu Bahagia Jasmani dan Rohani (materiil dan sepirituil), bahagia di dunia dan bahagia yang abadi di akhirat nanti. Lalu, kita memilih bahagia yang sementara atau yang lebih kekal ?..Itulah pilihan dihadapan kita. 

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia ingin merasakan dan menikmati hidup bahagia, senang dan tercukupi segala kebutuhan baik jasmani maupun rohani secara memuaskan ! Karena manusia diciptakan dari unsur ruh atau jiwa dan raga, makanya tentu saja mereka mempunyai sepak-terjang yang tendensius, yakni keinginan tertentu, cita-cita tertentu, punya rasa, punya rindu, punya selera berbeda-beda. 

Tak kalah pentingnya dia pasti punya rasa cinta. Mereka akan merasa gelisah, resah dan galau apabila semua kebutuhan itu tidak terepenuhi. Sedangkan objek yang dapat memenuhi kebutuhan mereka masih harus diperjuangkan terlebih dahulu sebelum semua bisa dinikmati. 

Lantas bagaimana cara memperolehnya agar tidak bertabrakan dengan kepentingan manusia yang lainnya yang berakibat fatal sehingga sampai mengakibatkan terjadinya pertengkaran, saling membunuh, dengan kata lain justru menimnulkan kebahagian..?

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Obsesi Manusia dalam Meraih Kebahagiaan"