Subtansi Kebahagiaan

Apa sih bahagia itu? ..Kok gampang banget ya kita asal ngomong ingin bahagia ?..Makanan apa itu dan makhluk apa itu ?.

Nah.. kalau kita sudah masuk kedalam bahasan tentang hakikat sesuatu, itu berarti kita sudah mulai masuk mengetuk pintu kajian filsafat (disini berarti filsafat tentang hakikat manusia). Oleh karena itu kita pun tak bisa meninggalkan kajian tentang ilmu filsafat, walau hanya secara garis pinggirnya saja.

Apabila kita perhatikan tentang keberadaan manusia yang terdiri dari jiwa dan raga, maka kedua unsur tersebut yang mesti harus terpenuhi jika mereka ingin meraih kebahagiaan yang hakiki. Lalu..apakah kebahagiaan itu bisa dicapai ?..kebahagiaan itu bisa dicapai asalkan yang sifatnya tidak sempurna. demikian mayoritas pendapat mereka. Dan pada tahap ini pun tidak seluruhnya memuaskan . Lalu.. apakah juga kebahagiaan yang sempurna itu bisa dicapai ?..Jawabnya tergantung pada masing-masing keyakinan kita tentang eksistensi Tuhan, dan bahwa jiwa manusia tidak dipunahkan oleh Tuhan. Disinilahperan agama sangat menentukan dalam kehidupan.
Menurut kaum atheis yang tidak mempercayai adanya Tuhan,  

Mereka membatasi keberadaan nasib manusia pada kebahagiaan sebagaimana mungkin dicapai dalam hidup ini, yaitu kebahagaiaan yang tidak sempurna. Mereka memberikan pengarahan agar manusia pasrah menyerah dan puas dengan segala sesuatu yang telah mereka kerjakandan selain itu agar tabah dalam menghadapi fakta hidup ini tidak mempunyai arti, sedangkan untuk meraih kebahagiaan yang sempurna itu hanya sia-sia belaka.

Adalagi yang berpendapat bahwa dunia ini penuh dengan duka nestapa, penuh penderitaan, dan lebih baik tidak hidup, karena seluruh alam semesta ini sekedar manifestasi dari sesuatu kekuatan asalai, will to live, yang merupakan sumber dari segalapergulatan, pertikaian, dan sumber kesengsaraan hidup. Menurut mereka kejahatan yang terbesar adalah melahirkan manusia baru, sebab hal itu hanya berarti akan menambah jumlah penderita. Maka kebijakan utama ialah rasa simpati, dimana kita mengganti prinsip will to live menjadi will to let live . Dengan sikap demikian kita mendapatkan keringanan dalam pergulatan yang terus-menerus  berlangsung. Gambaran yang kabur tentang kebahagiaan inilah yang bisa diharapkan.

Kita harus ingat bahwa kebahagiaan adalah  tujuan manusia, dan tujuan itu bisa dicapai dengan diperjuangkan, tidak mungkin datang begitu saja. Tak akan mungkin orang bahagia tanpa mau berusaha untuk mencapainya. 

"Tuhan tak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka mau berusaha untuk merubah nasibnya sendiri"
Maka kebahagiaan itu sesuai dengan definisinya, haruslah suatu action, dan suatu action dalam taraf kulminasi.

Sebelum kita masuk lebih jauh untuk mengetahui cara memenuhi kebutuhan kita, terlebih dahulu marilah kita tahu dulu apa sebenarnya yang kita cari selama ini, yakni arti "Bahagia" itu.

Menurut DR.W.Poespoporodjo sh, Bahwa : Kebahagiaan adalah keinginan yang terpuaskan karena disadari memiliki sesuatu yang baik. Menurut Observasi kita, segala menuju kearah tujuan dan memiliki dorongan yang dapat dipuaskan dengan hal-hal yang baik bagi mereka.

Tapi ingat lho, manusia itu akan merasa puas apabila ia membatasi keinginannya dengan membuat suatu batasan dan kompromi yang bijaksana. Karena apabila mereka tak sadar akan keterbatasannya sendiri dan kemana tujuannya, maka mereka justru akan bisa kebelinger hanya menuruti nafsu binatang yang tak kenal etika, sehingga yang akan terjadi adala Homo Homoni Lopus ! bukan Homo Homoni Solun ! Lihat kejadian di Irak, Afghanistan, Palestina dan negara-negara lain ?.. (pengancuran suatu bangsa terhadap bangsa lain) dengan dalih ingin membahagiakan dan membebaskanmanusia dari penderitaan.

Selain itu, kebahagiaan adalah merupakan motif dasar dari segala sesuatu yang kita perbuat, dan setiap perbuatan kita digerakkan oleh suatu keinginan. Pemuasan keinginan tersebut kita kehendaki paling tidak sebagai unsur dalam keseluruhan kebahagiaan kita. Itu pasti....!..  

Tapi ada beberapa fenomena yang menraik, bahwa seringkali kita mengorbankan sesuatu yang baik untuk hal-hal yang baik lainnya. Dan bisa jadi kita salah pilih terhadap sesuatu yang nampaknya naik, dan tidak memilih sesuatu yang sebenarnya memang benar-benar baik.

Bisa juga kita seperti orang yang tidak waras, memilih sesuatu ketenangan yang sifatnya sementara pada saat sekarang ini daripada memilih kebahagiaan yang lebih besar artinya di hari kemudian (Hari Akhirat) nanti. Nah.. coba deh, mari kita introspeksi sejenak, pernahkah kita berbuat demikian ?..jawabnya : Ya, bahkan selalu demikian !..

Namun semua itu kita lakukan dalam rangka kebahagiaan juga, kan. Hal yang demikian menunjukan bahwa kita sangat menghendaki kebahagiaan, sehingga kita tak lagisabar menanti untuk memperolehnya lebih lama lagi. Akhirnya yang kita peroleh hanya sepotong kebahagiaan yang tidak sempurna lagi yang hanya memikat panca indera kita saja. 

Dengan demikian, unsur kesabaran nampaknya ikut andil untuk mendapatkan kebahagiaan yang sifatnya lebih sempurna dari sebelumnya.

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Subtansi Kebahagiaan"